​Lebih lanjut, Mendagri menekankan bahwa keberhasilan pelestarian budaya ini tidak lepas dari peran krusial para tetua adat dan masyarakat setempat yang konsisten menjaga nilai-nilai warisan leluhur.

​”Saya memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada tetua-tetua adat yang ada di sini. Masyarakat adat yang ini. Di tengah-tengah kehidupan modern, kita tidak harus berganti dengan modern. Tapi kita bisa mempertahankan dan banyak filosofi-filosofi di masa lalu [yang dipertahankan],” jelasnya.

​Tito kemudian membandingkan kondisi Desa Matabesi dengan pengalamannya saat berkunjung ke Hawaii. Di Hawaii, kawasan yang dulunya merupakan desa-desa adat kini telah berubah total akibat modernisasi besar-besaran. Jejak budaya asli di sana kini lebih banyak bergeser menjadi sekadar pertunjukan komersial di hotel-hotel, bukan lagi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari masyarakat karena desa adatnya telah berganti menjadi gedung-gedung bertingkat.

​Berkaca dari fenomena tersebut, Mendagri mengingatkan agar deru modernisasi di Indonesia jangan sampai mencerabut akar budaya masyarakat.

​”Kita tetap melakukan modernisasi di titik tertentu, tapi di bagian tertentu harus kita jaga seperti ini. Supaya menjadi objek, salah satu objek wisata, dan juga menjadi monumen bersejarah yang itu akan berguna untuk anak cucu kita. Biar dia tahu di mana grassroot-nya,” pungkas Mendagri.

​Turut mendampingi Mendagri dalam kunjungan tersebut, antara lain ​Emanuel Melkiades Laka Lena (Gubernur NTT), ​Willybrodus Lay (Bupati Belu), ​Tri Tito Karnavian (Ketua Umum TP PKK sekaligus Ketua Harian Dekranas), ​Pengurus TP PKK Provinsi NTT dan Kabupaten Belu, ​para kepala suku serta masyarakat adat Matabesi.

​(Ard/Rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *