JAKARTA – Dengan integrasi data Dukcapil ke semua lini pelayanan publik maka tata kelola negara akan semakin mudah terkendalikan, dan terbangun transparansinya. Dengan begitu, terjadi revolusi kertas putih sehingga Dukcapil dapat menghemat Rp 900 miliar, karena warga bisa cetak dokumen dengan mandiri.

Dirjen Dukcapil Prof Zudan Arif Fakrulloh menjelaskan, di dunia bisnis keuangan dan perbankan kini di kenal e-KYC (know your customer). Sebelumnya proses KYC di lakukan secara manual. Prinsip KYC adalah mengenal nasabah atau calon nasabah.

“Awalnya KYC, nasabah harus menyerahkan KTP-el secara manual dengan tatap muka langsung. Perkembangan selanjutnya, KTP-el bisa di aca dengan card reader, tetapi ini ada banyak kendala dalam masa pandemi Covid-19. Tujuannya sih tetap sama memastikan nasabahnya benar, mencegah data ganda, mencegah fraud, dan mendorong semua orang berperilaku baik,” tutur Zudan di webinar tentang Kedudukan dan Fungsi Adminduk dan Catatan Sipil dalam Administrasi Negara RI yang di gelar oleh Magister Ilmu Administrasi Universitas Khrisnadwipayana, Sabtu (25/9/2021).

Setiap orang harus berperilaku baik, karena semuanya terkoneksi dan makin transparan. Nomor handphone, NPWP, semuanya masuk dalam big data kependudukan Dukcapil.

“Kalau ada orang mendaftar nomor perdana handphone dengan namanya sendiri, kemudian dia menipu orang, setelah itu dia membuang nomor handphonenya, seolah dia merasa aman. Oh, tidak begitu. Karena semua nomor handphone terdaftar di Dukcapil, ketika dia mendaftar dengan NIK dan nomor KK sendiri tapi berperilaku tidak baik itu bisa menimbulkan masalah, inilah proses KYC. Dulu tatap muka sekarang sudah bisa secara elektronik,” jelas Prof Zudan.

Dengan e-KYC orang tidak perlu datang ke bank. Cukup verifikasi wajah atau sidik jari dan irish mata berbasis NIK. Ketik NIK-nya verifikasi dengan foto wajah atau dan sidik jari.

“Indonesia sudah mampu seperti itu. BUMN yang mengakses data biometerik Dukcapil untuk e-KYC ini sudah beberapa, yaitu Pegadaian di ikuti Bank Mandiri dan Bank BNI mulai jalan. Bank BCA juga mulai jalan sistemnya seperti itu. Berbagai K/L lain bisa mengembangkan seperti ini,” harap Zudan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *