Di perguruan tinggi, misalnya mahasiswa Krisnawipayana yang mengikuti perkuliahan nantinya tidak usah mengisi absensi manual. Bisa identifikasi berbasis elektronik dengan QR code.
“Nggak masuk kuliah beneran nggak masuk. Dia tidak bisa titip absen sehingga kita betul-betul mengembangkan perilaku baik. Jadi Layanan adminduk bisa mendorong penduduk berperilaku baik,” tandasnya.
Dengan digitalisasi layanan Dukcapil bertransformasi. Dulu dokumen KK berwarna biru sekarang dengan kertas putih biasa dengan TTE. Tidak ada lagi cap dan tanda tangan basah. Filenya bisa di cetak sendiri semuanya asli tak perlu legalisir. Setiap waktu di utuhkan bisa di print out ulang. Semua itu bisa di lakukan karena Dukcapil sudah menghapuskan penggunaan kertas security di ganti dengan kertas putih biasa.
Revolusi cetak dokumen kependudukan dengan kertas putih ternyata menghemat miliaran dana APBN. Selama 2 tahun terakhir Dukcapil berhasil menghemat Rp900 miliar. Dengan cara ini Dukcapil bertransformasi seperti perbankan, mendorong pelayanan lebih cepat, bisa 24 jam sehari karena sudah ada ADM, yaitu mesin ATM-nya Dukcapil. Pemohon bisa mencetak dokumen dari Anjungan Dukcapil Mandiri. Saat ini sebanyak 210 mesin ADM beroperasi di seluruh Indonesia.
Zudan mengingatkan di era satu data kependudukan ini yang harus di jaga adalah perlindungan rahasia data pribadi.
“Masyarakat berperan penting agar data pribadi tidak beredar di mana-mana. KTP-el, KK NIK, nomor handphone, rekening bank, banyak sekali di mesin pencarian Google. Ini karena masyarakat sering mengupload data pribadi mereka lewat WA, Line, IG, FB atau Telegram. Maka kurangi itu, yang di upload cukup nama dan NIK saja. Jangan foto selfie dengan dokumen kependudukan kita,” ucap Zudan mengingatkan.


