Adakah cara instan yang halal untuk menjadi kaya? Rasanya tidak ada kecuali pewaris tunggal yang hartnya tidak habis tujuh turunan. Sepuluh tahun mungkin akan aman, tapi tetap saja tanpa pengelolaan yang baik, harta sebanyak apapun akan habis dalam sekejap. Berapa banyak orang yang menyukai kopi instan? Bedakan rasanya dengan kopi yang diracik langsung oleh sang peracik kopi. Begitulah dalam berbisnis. Orang kaya belum tentu memikirkan orang lain, tapi seorang pengusaha yang beretika sudah pasti memikirkan orang lain, karena hidupnya tidak hanya tentang diri dan Tuhan, tetapi juga antar manusia dengan manusia.
Daya juang dari seorang pembisnis atau pelaku wirausaha adalah kerja keras, inisiatif, kreatif dan inovatif. Tidak masalah jika masa muda dihabiskan dengan jatuh bangun daripada hanya mampu melihat keberhasilan orang lain. Kemudian bangunlah karakter dan reputasi sebagai manusia yang beretika. Yang tidak kalah penting adalah perlunya memegang teguh pendirian dan nilai yang danutnya. Sebagai manusia yang bermartabat dan beragama, maka tidak perlu melakukan sesuatu kepada oranglain yang kita sendiri tidak suka mendapatkannya (Peter Koestenbaum, 2002).
Selain membangun karakter dan reputasi yang baik, berbisnis haruslah dengan etis. Jujur menjadi pangkal utama, jika baik katakan baik dan jika tidak katakan tidak. Jika sudah waktunya pegawai dibayar maka bayarlah sesuai kesepakatan bahkan sebelum keringatnya kering. Pembisnis yang etis selalu menjaga ucapannya, apa yang diucapkan akan selaras dengan apa yang akan dilakukan. Lalu konsistenlah dengan apa yang sudah kita mulai, tidak masalah tahap demi tahap, sedikit demi sedikit, dibandingkan banyak tapi jarang.
Ketika semua usaha sudah kita kerahkan, jatuh bangun menjadi makanan sehari-hari yang selalu bisa dinimati, maka seorang pengusaha juga harus memikirkan bagaimana usahanya terus berkembang. Karena kita tahu jika tidak melanjutkan bisnis, bisa jadi akan ada orang yang tidak makan hari ini. Dan jadilah manusia kaya dengan usaha, bukan hanya kaya karena banyak uang tetapi kaya hatinya, pikirannya, idenya, dan wawasannya dengan tetap mengingat bahwa seorang pengusaha selalu memikirkan orang lain.
Penulis: Shilvia
Universitas Pendidikan indonesia (UPI) Serang



