“Mereka beri stigma ini media abal-abal,” ungkapnya. Padahal, media siber menawarkan jangkauan tak terbatas dan biaya operasional yang lebih rendah, mampu menerobos “blokade” informasi yang dikuasai konglomerasi.
Sorotan pada Podcast dan Seruan Agar Negara Hadir
Firdaus juga menyoroti tantangan baru, yakni kemunculan platform digital personal seperti podcast. Ia mempertanyakan apakah konten yang dikelola perorangan, seperti milik Karni Ilyas atau Abraham Samad, sudah memenuhi kaidah jurnalistik, khususnya prinsip cover both sides.
“Negara pun, tokoh-tokoh pers pun yang ada di Dewan Pers kelihatannya belum menyiapkan konsep ini,” tandasnya.
Sebagai respons, SMSI berencana menggelar diskusi maraton hingga Hari Pers Nasional (HPN) mendatang untuk merumuskan masa depan media baru.
Di akhir pernyataannya, Firdaus menyampaikan harapan utamanya: kehadiran negara. Kehadiran yang dimaksud bukan dalam bentuk bagi-bagi proyek iklan, melainkan dalam bentuk regulasi yang menciptakan ruang bagi media siber, terutama yang kecil, untuk berkompetisi sehat.
“Negara bisa hadir dengan memfasilitasi pelatihan untuk peningkatan SDM, atau menyediakan server bersama bagi media-media startup di daerah,” tutupnya, menyerukan agar pemerintah fokus pada kompetisi yang sehat, bukan ketergantungan pada anggaran negara.
(Ard/Rdk)

