Close Ads

Iklan - Scroll untuk membaca artikel ↓

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
15 hari
Menuju Pelantikan Pengurus SMSI Kabupaten Tangerang

Menjaga Kesehatan Mental Ibu Menurut Psikolog

Kesehatan  

Menjaga kesehatan mental ibu menurut psikolog. (Dok. RS Sari Asih Group/infotangerang.co.id)
Advertisement

KESEHATAN – Dalam pandangan WHO, kesehatan mental ialah keadaan sejahtera di mana setiap individu dapat menyadari potensi dan mewujudkannya, serta mampu menangani tekanan kehidupan yang normal, yang kemudian dapat berfungsi secara produktif dan bermanfaat sehingga memberikan kontribusi positif.

Disampaikan oleh Psikolog RS Sari Asih Ciputat, Tangerang Selatan, Mahesti Pertiwi, M.Psi., Psikolog., bahwa mental yang sehat itu adalah ketika seorang individu bisa memahami dan mengenali dirinya, berupa kemampuan untuk berpikir dan merasakan, memahami kelebihan dan batasan diri, seperti menyadari kapan waktunya berhenti dan kapan bisa memulai lagi, sehingga lebih adaptif dalam menghadapi tekanan hidup.

Pemahaman mampu memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan memang sepertinya ‘wah’ jadi terkesan sulit, namun perlu dipahami bahwa sebenarnya bisa dimulai dari lingkungan kecil terdekat, seperti seorang ibu yang berkontribusi positif bagi anak dan keluarganya.

“Ciri-ciri individu bermental sehat itu adalah di mana ia bisa memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan, tidak kesulitan dalam beradaptasi dan berinteraksi dengan orang lain, juga dengan tetap bisa terus berkarya secara produktif berkontribusi bagi orang lain, serta mampu mengelola stres maupun tekanan yang hadir dalam kehidupannya,” kata Mahesti.

Bagi seorang ibu, untuk dapat berkontribusi kepada anak, terlebih dahulu ibu tersebut perlu berkenan untuk fokus ke diri sendiri dengan tidak melupakan kebutuhan diri, dengan cara mengenali dirinya sendiri lebih dalam; dengan mengenali emosi yang dirasakan. Dengan berlatih mengenali dan mengelola emosi, ibu memiliki kemampuan dalam meregulasi emosi, ketika ibu bisa meregulasi emosinya dengan cara-cara yang aman dan nyaman, perlahan akan juga menularkan ke anak.

Lebih jauh, Mahesti membenarkan dengan menjadi seorang ibu yang memiliki banyak peran tentu bukanlah hal mudah, selain menjadi diri sendiri, seorang istri, seorang anak, juga seorang pekerja misalnya. Untuk menghadapinya, perlu ada kesadaran diri bahwa tidak ada yang bisa dan memang tidak perlu berusaha menjadi sempurna. Yang diperlukan adalah melalui proses belajar untuk dapat menghadapinya. Perlu merasa cukup menjadi ibu yang berkenan untuk terus belajar.

Baca juga:  Penyebab Penularan HIV

“Banyak para ibu berpikir dan berkeinginan untuk bisa berbuat banyak pada semua peran; dengan menjadi seorang ibu, seorang istri, seorang anak, seorang wanita pribadi dan juga ibu yang berkarya. Mereka pun terkadang lupa tentang kebutuhan dirinya sendiri. Ada perasaan bersalah saat mencoba memberikan waktu untuk diri sendiri,” tambah Mahesti.

“Cara mengatasinya adalah dengan mencoba membagi waktu, ini waktu untuk anak, ini untuk pasangan, ini untuk orang tua, ini untuk mertua, ini untuk teman, ini untuk pekerjaan, dan lain-lain, serta tidak lupa memberi porsi waktu untuk diri kita sendiri. Dengan meyakini diri kita juga berhak untuk diberikan waktu; dan itu boleh, sehingga tidak muncul rasa bersalah. Karena diri sendiri perlu juga diberi waktu bermakna dengan diri, istilahnya “me time” karena kembali ke definisi sehat mental yang pertama adalah dengan berkenan mengenali diri sendiri secara lebih dalam,” ujar Mahesti.

Seorang ibu di awal berumah tangga dan memiliki anak, biasanya memang berbeda dengan yang sudah lama. Hal tersebut wajar, karena ibu baru cenderung bingung dan biasanya belum mampu beradaptasi dalam membagi waktu maupun menentukan skala prioritas, sedangkan bagi yang sudah lama berumah tangga biasanya memang sudah banyak pengalaman dan belajar untuk bersikap saat ada kendala misalnya.

Agar ‘aware’ terhadap kesehatan mental ibu, Mahesti memberikan tips, adalah saat ibu merasa lelah dan kewalahan hingga merasa tidak tahu harus berbuat apa, merasa khawatir terus-menerus, sulit fokus, merasa sedih, cemas, takut hampir setiap hari, mudah marah tanpa alasan, menangis tiba-tiba tanpa sebab, yang kemudian mengganggu aktivitas sehari-hari, juga menggangu pola tidur dan makan, disertai ada gejala fisik yang timbul misalnya sakit kepala, nyeri otot, gangguan pencernaan, sampai menarik diri dari orang lain maupun pergaulan sosial, serta ada rasa ingin menyakiti diri sendiri ataupun orang lain.

Baca juga:  Hari Jadi ke-22, Pokja WHTR Gelar Khitanan Massal dan Santunan Yatim

Hal ini tanda ibu perlu berjeda, melakukan identifikasi diri dengan merenungkan apa yang menjadi penyebabnya.

“Pelan-pelan berjeda, terima saja dahulu perasaan tidak menentu tersebut, atau hal-hal yang tidak nyaman tersebut, karena jika didiamkan atau dihindari justru akan menambah ketidaknyamanan dalam diri, kemudian tenangkan diri sambil tarik napas panjang kemudian hembuskan beberapa kali, lalu kenali emosi yang dirasa dan sensasi fisik yang hadir, kemudian renungkan atau dengan cara menuliskan penyebabnya darimana perasaan dan atau pikiran tersebut berasal, kemudian terima perasaan tersebut, lalu identifikasi pikiran yang hadir tersebut dengan pilah mana yang merupakan fakta mana yang asumsi, kemudian sadari bahwa ada yang bisa dikontrol dan tidak bisa dikontrol, lebih lanjut fokus pada yang bisa dikontrol,” saran Mahesti.

Setelah itu fokus pada apa yang bisa dikendalikan, semisal merubah sudut pandang. Atau bisa juga dengan berbagi dengan orang terdekat yang dipercaya.

“Memang tidak bisa instan, perlu berkenan mengupayakan pelan-pelan berlatih untuk berproses setiap harinya, jika sudah mencoba tapi masih merasa sulit, boleh ya bu, silakan untuk mencari bantuan profesional, bisa ke psikolog atau ke psikiater terdekat,” tutur Mahesti.

(Rdk)

Advertisement
Scroll to Continue With Content

Iklan