JAKARTA – Indonesia berduka. Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur kini sisakan kepiluan dan keprihatinan semua pihak.
Insiden terjadinya tragedi berdarah usai kekalahan skor 2-3 Arema FC versus Persebaya. Suporter Arema memasuki lapangan karena timnya kalah.
Insiden itu dengan sigap direspons polisi dengan mengadang dan menembakkan gas air mata.
Gas air mata itu ditembakkan tidak hanya kepada suporter yang memasuki lapangan, tetapi juga ke arah tribun penonton yang kemudian memicu kepanikan suporter.
Akibatnya, massa penonton berlarian dan berdesakan menuju pintu keluar, hingga sesak nafas, penumpukan massa, dan terinjak-injak.
Relawan yang terjun ke RSUD Dr. Saiful Anwar, Nelly, mengatakan rumah sakit akhirnya mencetak gambar jenazah untuk memudahkan identifikasi oleh keluarga.
Kegaduan berawal dari Aremania melemparkan sejumlah flare dan benda-benda lain ke area lapangan. Dua unit mobil polisi menjadi sasaran amukan suporter. Mobil K9 terbakar dan unit lainnya rusak parah dengan posisi miring.
Petugas keamanan setempat sudah berusaha mencegah kericuhan yang terjadi di Sadion Kanjuruhan. Namun, karena jumlahnya tak sebanding, petugas akhirnya menembakkan gas air mata sehingga membuat suporter sulit bernapas dan pingsan.
Peristiwa berdarah itu mendapat respon memdalam dari Mayjen TNI (Purn) Tatang Zaenudin. Dia menyebut dahulu tragedi di Peru tahun 1964 telah menjadi bayangan hitam dalam persepakbolaan dunia.
“Kala itu keputusan wasit dan penanganan aparat oepolisian yang tidak profesional sehingga mengakibatkan 328 orang meninggal dunia,” kata Tatang dalam konferensi pers, Minggu (2/10/2022).
“Kini Indonesia kembali mengalami hal yang sama. Tragedi Malang ini adalah insiden berdarah ke 2 dan terbesar didunia,” lanjutnya.
Tatang menyampaikan duka yang mendalam, bahkan dia mengatakan kejadian tersebut akibat dari kebodohan penanganan aparat kepolisian yang tidak profesional.




