Menurutnya, salah satu fenomena yang menarik untuk dicermati adalah munculnya figur-figur di luar arus utama yang mampu mengubah lanskap politik, sosial, maupun ekonomi. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari kondisi yang tidak terduga.
“Ini realitanya the rise of outsider. Pertanyaannya bukan siapa mengambil apa, jatah siapa, diambil siapa, bukan. Tapi lebih dalam dari itu, adalah mengapa ini terjadi? Apakah ada kejenuhan kepada mainstream? Apakah kemudian juga pemain-pemain lama ini kurang siaga? Itu menarik untuk menjadi bahan kontemplasi,” ungkapnya.
Menurut Bima, dunia saat ini tengah memasuki era ketidakpastian yang menuntut para pemimpin masa depan memahami keterkaitan antara dinamika global dan persoalan domestik. Karena itu, kemampuan beradaptasi, berpikir terbuka, serta memahami keberagaman menjadi modal penting dalam kepemimpinan.
Ia menegaskan bahwa pemimpin yang baik adalah sosok yang ditempa oleh perbedaan dan terbiasa berinteraksi dengan beragam pandangan, latar belakang, maupun keyakinan.
“Biasa berbeda, enggak harus selalu homogen dan sama. Tapi sangat terbiasa dengan perbedaan pikiran, pendapat, ideologi, keyakinan, dan semuanya,” tandasnya.
Seminar nasional tersebut turut dihadiri Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) KAMMI Ahmad Jundi Khalifatullah beserta jajaran pengurus dan kader KAMMI.
(Ard/Rdk)



