“Kita harus mempersiapkan tenaga kerja lokal agar mampu bersaing dalam lanskap industri yang berubah. Dinas Tenaga Kerja tengah mengembangkan pelatihan digital dan bahasa asing untuk generasi muda,” jelasnya.
Tokoh masyarakat Anwar juga turut memberikan pandangannya. Ia menilai akar persoalan premanisme di dunia usaha terletak pada dua hal utama: minimnya komunikasi antara pemangku kepentingan dan lemahnya penegakan hukum di masa lalu.
“Ruang kosong komunikasi sering kali dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan pribadi. Kita juga harus jujur bahwa lemahnya penegakan hukum membuka celah bagi praktik intimidasi. Kedua hal ini harus dibenahi jika kita ingin menarik kembali kepercayaan investor,” tegas Anwar.
Seluruh narasumber sepakat bahwa perbaikan iklim investasi di Banten membutuhkan kerja sama lintas institusi mulai dari regulasi yang kuat, penegakan hukum yang konsisten, hingga komunikasi yang terbuka antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Follow Berita infotangerang.co.id di Google News
(Ard/Rdk)



