Berebut Tahta Ditengah Wabah
Kini Pilkada di kabupaten Pandeglang siap digelar meski wabah Covid-19 masih jadi masalah nasional, alih-alih masalah global, Pilkada tetap dilaksanakan. Di moment inilah bagi Irna pertarungan dalam merebut kekuasaan adalah keniscayaan, meski beban berat dan masalah kesehatan jadi topik utama di setiap lini kehidupan masyarakat, karena walaupun pandemi Covid-19 pertarungan harus tetap dilaksananakan. Masalah Covid-19 tetap masih bisa dijadikan sahabat baik (diklaim dapat diatasi) selama proses perebutan kekuasaan dapat berjalan dengan lancar dan mengikuti protokol yang ada.
Lobi-lobi Politik Meyakinkan
Publik tentu tak tahu detail bagaimana persisnya melewati semua tahapan menuju tiket pencalonan ketika Irna melangkah. Di banyak kesempatan hanyalah hasil akhir dari pada lobi-lobi poltik yang jadi santapan media massa, misalnya saja ketika ia mendapatkan restu dan rekomendasi dari salah satu partai, bahkan beberapa partai. Maka hasil rekomendasi itulah yang diliput dan diekspose media massa, namun dibalik itu semua khalayak tak banyak tahu bagaimana lobi dari seorang Irna bisa meyakinkan para petinggi partai dalam memberikan rekomendasi untuk melenggang maju sebagai kandidat kepala daerah.
Bermadu Dengan Moncong Putih
Sekali lagi, publik tak banyak tahu bagaimana pandangan, tanggapan, dan juga perasaan para pengurus salah satu partai yang pernah membesarkan Irna dalam kancah politik menjadi ‘singa Betina’ yang piawai memainkan strategi politiknya menuju kursi kekuasaan. Bagaimana pula pandangan, tanggapan, dan perasaan para pengurus Partai yang telah mengusung dan merekomendasikan Irna menjadi calon kepala daerah, namun kini harus ditinggalkan, dan tidak lagi dianggap sebagai Rumah Besar-nya sebagai Bintang Mercy-nya. Bahkan mungkin bisa saja si ‘Moncong Putih’ yang tengah bahagia karena ‘dimadu’, besok lusa harus merasakan pedih dari api cemburu karena sang ‘Singa Betina’ menemukan tambatan hati yang baru yang lebih mempesona dari semua yang pernah dicicipinya.
Penulis ini pernah aktif di Teater Bale, belajar di Magister Ilmu Komunikasi politik di Mercu Buana Jakarta, Dosen di Universitas Buddhi Dharma, Tangerang, Banten.
Source: Suntama, M.Ikom



