Di sisi lain, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa penggunaan dua jenis vaksin yang berbeda boleh saja dilakukan dalam kondisi darurat, misalnya ketika persediaan jenis vaksin Covid-19 dosis pertama sudah tidak ditemukan lagi.
Namun, CDC juga menekankan bahwa penggantian jenis vaksin ini hanya boleh dilakukan dengan vaksin yang berbahan dasar sama. Contohnya, penerima vaksin Pfizer untuk dosis pertama, diperbolehkan untuk menggunakan jenis vaksin mRNA lain seperti Moderna.
Sementara itu, vaksin Sinovac dan AstraZeneca yang digunakan di Indonesia terbuat dari bahan dasar yang berbeda. Terlebih lagi, belum ada penelitian yang membahas penggunaan kedua jenis vaksin ini secara bersamaan atau bergantian.
Oleh karena itu, disarankan untuk menerima dua dosis vaksin COVID-19 dari jenis vaksin yang sama.
Ini berarti Anda sebaiknya tetap menerima vaksin Sinovac untuk dosis kedua bila dosis pertama yang Anda terima adalah vaksin tersebut. Hal yang sama juga berlaku jika Anda memperoleh vaksin AstraZeneca sebagai vaksin dosis pertama.
Namun, jika memang tidak tersedia dosis kedua dengan jenis vaksin yang sama, sebaiknya tetap menerima vaksin yang tersedia. Ini lebih baik dibandingkan tidak mendapatkan booster vaksin sama sekali. Selama pemberiannya dilakukan dalam pengawasan dokter, maka pemberian vaksin dengan jenis berbeda masih tergolong aman.
Menerima dua dosis vaksin Covid-19 akan memberikan tubuh perlindungan yang maksimal terhadap kemungkinan infeksi dan komplikasi akibat virus Corona. Tak hanya itu, partisipasi Anda dalam program vaksinasi ini juga akan mempercepat pembentukan herd immunity guna mengakhiri pandemi Covid-19.
Perlu diingat bahwa menerima vaksin bukan berarti Anda sepenuhnya terlindungi dari virus Corona. Anda tetap perlu menerapkan Protokol Kesehatan dengan rajin mencuci tangan, selalu mengenakan masker saat berada di luar rumah, menjaga jarak aman, dan menghindari keramaian.
Jika Anda masih memiliki pertanyaan terkait penerimaan vaksin Covid-19, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. (Rud/Red)
Source: Artikel tersebut dilansir alodokter.com dengan judul yang sama, Kamis (8/7/2021). Ditinjau oleh: dr. Sienny Agustin.



