“Ya, jadi Yayasan Aing Tangerang ini merupakan Yayasan sosial yang melestarikan bahasa Sunda Tangerang. Namun kami juga punya beberapa program kemanusiaan, seperti bantuan untuk korban bencana alam seperti ini. Hari ini 21 Februari Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional, jadi sembari menyalurkan bantuan, kami juga merayakan hari bahasa ibu di lokasi banjir,” kata Kang Udel.
Tangerang memiliki berbagai ras, suku, dan budaya yang berkembang. Begitu pula dengan tutur bahasa masyarakat Tangerang ada banyak ragam bahasa yang dipergunakan oleh warga Tangerang, mulai dari Sunda, Betawi, Jawa, dan Tionghoa. Belum lagi beberapa bahasa yang dibawa oleh para pendatang dari daerahnya masing-masing.
Bahasa Sunda dapat dikatakan sebagai “Bahasa Ibu” bagi masyarakat Tangerang. Hal itu dikarenakan pada masa kerajaan, wilayah Tangerang masuk dalam daerah kekuasaan kerajaan Padjajaran. Hampir mayoritas penduduk Tangerang asli berbahasa Sunda.
Namun, Bahasa Sunda yang berkembang di Tangerang cukup berbeda dengan Bahasa Sunda Priangan (Jawa Barat). Pada Bahasa Sunda yang dituturkan oleh masyarakat Tangerang tidak mengenal tingkatan Undak Usuk Basa Sunda (UUBS) karena daerah perkembangannya belum pernah berada dalam kekuasaan Kerajaan Mataram. Hal itu menyebabkan Bahasa Sunda Tangerang terlihat mempunyai hubungan dengan Bahasa Sunda Buhun/Kuna/Kuno. Namun bagi mayoritas orang menganggap Bahasa Sunda Tangerang ini sebagai bahasa sunda kasar, karena dinilai berdasarkan sistem Kamus Bahasa Sunda yang ada dan memiliki sistem tingkatan bahasa.
“Ada beberapa faktor yang menyebabkan Bahasa Sunda Tangerang tidak digunakan oleh beberapa orang Sunda Tangerang itu sendiri, salah satunya opini negatif yang sudah terserap. Sunda Tangerang banyak yang mengatakan bahasa Sunda kasar jadi orang Sunda Tangerangnya kurang percaya diri untuk pakai, nah disinilah kita terus mengedukasi ke masyarakat bahwa bahasa Sunda Tangerang tidak kasar melainkan unik. Karena memang sudah seperti ini bahasa yang diwariskan oleh orang tua kita. Jadi jangan pernah malu untuk menggunakannya, dan harus berani menunjukan keunikan bahasa khas daerah kita,” jelas Kang Udel. (Fin/Red)


