KESEHATAN – Kemampuan konsentrasi dan daya ingat anak dalam menyerap pelajaran di sekolah tidak hanya dipengaruhi oleh pola belajar, melainkan juga dari asupan gizi harian. Pemenuhan nutrisi yang tepat sejak dini menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan fungsi kognitif dan daya tangkap anak.
Dokter Spesialis Anak RS Sari Asih Ciledug, dr. Arifin Kurniawan K, Sp.A, menyampaikan bahwa perkembangan otak dan sistem saraf anak membutuhkan asupan nutrisi yang berimbang agar dapat bekerja secara optimal.
“Pemenuhan nutrisi yang baik merupakan salah satu fondasi penting dalam mendukung perkembangan otak dan kemampuan belajar anak,” ujar dr. Arifin dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).
6 Nutrisi Pendukung Daya Inget dan Fokus Anak
Untuk mendukung performa kognitif anak agar tidak cepat lelah dan tetap fokus saat beraktivitas, dr. Arifin merekomendasikan enam jenis makanan bergizi tinggi berikut:
1. Ikan Berlemak: Jenis ikan seperti salmon, sarden, dan tuna kaya akan asam lemak omega-3 (DHA) yang berfungsi membentuk sel-sel otak serta meningkatkan kemampuan memori.
2. Telur: Mengandung kolin tinggi yang berperan menghasilkan neurotransmitter, yakni zat penghantar sinyal antar sel saraf untuk mendukung daya ingat.
3. Sayuran Hijau: Bayam dan brokoli mengandung zat besi, folat, dan vitamin K yang membantu melancarkan distribusi oksigen ke otak sehingga fokus anak tetap terjaga.
4. Gandum Utuh: Asupan seperti oatmeal dan roti gandum menyuplai energi secara stabil (slow-release) untuk mencegah anak cepat mengantuk saat belajar.
5. Buah Beri: Antioksidan dalam blueberry atau stroberi berfungsi melindungi sel otak dari radikal bebas sekaligus meningkatkan komunikasi antar sel saraf.
6. Kacang dan Biji-bijian: Mengandung vitamin E dan lemak sehat yang menjaga kesehatan sistem saraf jangka panjang.
Waspadai Efek Gula Berlebih pada Konsentrasi
Selain mencukupi nutrisi penting, dr. Arifin mengingatkan para orang tua untuk membatasi konsumsi makanan olahan serta minuman beroksigen atau tinggi gula pada anak. Asupan gula berlebih dinilai dapat mengganggu kestabilan emosi dan fokus anak.
“Makanan tinggi gula dapat menyebabkan lonjakan energi sesaat (sugar rush), namun setelah itu anak akan lebih cepat lelah (sugar crash) sehingga memengaruhi konsentrasi maupun suasana hati,” jelasnya.
Imbauan tersebut sejalan dengan panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyarankan pembatasan gula tambahan demi menjaga kesehatan fisik dan mental anak.
Ia menambahkan, kombinasi antara pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik teratur, serta istirahat yang cukup merupakan kunci utama dalam mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Orang tua juga dianjurkan berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk menentukan kebutuhan gizi yang sesuai dengan tingkatan usia anak.
(Mad/Rdk)


