Close Ads
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
89 hari
Menuju Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Periode 2024 - 2029

Advertisement


Jangan Ada Budaya Kekerasan di Praja IPDN, Mendagri: Terjadi Akan Ditindak Tegas

News  

Muhammad Tito Karnavian, Mendagri. (dok.Puspen Kemendagri)
Advertisement

NASIONAL – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengingatkan agar jangan lagi ada budaya kekerasan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Jika masih tetap ada praja yang melakukan kekerasan, Mendagri dengan tegas mengatakan akan menindaknya. Praja itu akan dipecat dan dituntut sesuai hukum pidana.

Menurut Mendagri, muda praja yang baru dilantik kemarin akan dibentuk menjadi manusia yang mendekati paripurna. Sebab tidak mungkin sempurna. Artinya memiliki kemampuan intelektual yang baik dengan ilmu-ilmu dasar, termasuk core bisnisnya adalah ilmu pemerintahan.

“Kemudian diperkuat dengan jasmani dan kesehatan yang baik dan yang ketiga dilengkapi dengan moralitas dan mentalitas yang baik,” kata Tito Karnavian saat memberi kuliah umum bagi Praja IPDN di Lapangan Parade Abdi Praja Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (7/11/2020).

Dikatakan Mendagri, pintar saja tidak cukup tanpa diikuti dengan moralitas yang baik meskipun kesehatan jasmani baik, akan out dari IPDN. Begitu juga otak pintar mental bagus, tapi sakit-sakitan, itu juga bakal out. Kemudian, moral baik, jasmani baik tapi nilainya D semua, itu juga akan out dari IPDN.

Baca juga:  Mayat Laki-laki Tanpa Identitas Ditemukan Warga Dengan Kondisi Mengenaskan

We are creating the best among the best, lembaga ini berusaha membentuk adik-adik menjadi orang yang terbaik dari orang yang terbaik,” tutur Tito Karnavian.

“Terkait dengan tiga aspek ini, adik-adik jangan lupa bahwa adik-adik akan menjadi aparatur sipil negara, maka jangan salah arah pada saat proses pembentukan, baik oleh para siswa yang dididik maupun oleh para pendidik,” katanya.

Pembentukan karakter, lanjut Mendagri, mesti diarahkan kepada karakter sipil, tapi sipil yang memiliki kedisiplinan. Dirinya pernah jadi taruna di Akpol. Jadi paham betul soal itu karena pernah mengalami kehidupan sebagai taruna yang keras dan sangat disiplin. Yang pasti kekerasan yang dilakukan di mana-mana tujuannya cuma satu saja, hanya untuk membalas dendam, jangan seperti itu.

Baca juga:  Oknum RT di Legok Sunat Bansos Warganya sebesar Rp300 Ribu

Kalau ada yang mengatakan bahwa kekerasan itu dalam rangka untuk membina supaya lebih disiplin, baginya itu omong kosong, Mendagri melihat kekerasan di lembaga pendidikan tidak banyak manfaatnya.

“Saya sudah sekolah di mana-mana, sekolah di Inggris, Amerika, Australia, New Zealand saya juga melihat sekolah Hometown Academy Singapura tidak ada pukul-pukulan tetapi mereka bisa bekerja profesional,” ujarnya.

Advertisement

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Advertisement