Selain faktor kebersihan, kondisi medis tertentu juga dapat meningkatkan risiko bau kaki. Salah satunya adalah hiperhidrosis, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami produksi keringat berlebih, termasuk pada bagian kaki, bahkan ketika tidak sedang melakukan aktivitas fisik.
Infeksi jamur juga termasuk kondisi medis yang dapat menyebabkan aroma menyengat pada kaki.
Cara Mengurangi Bau Kaki
Untuk membantu mengatasi bau kaki, dr. Sotya Prasari memberikan sejumlah langkah praktis yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, kaki perlu dicuci secara teratur menggunakan sabun antibakteri, terutama setelah melakukan aktivitas. Setelah dicuci, kaki juga harus dikeringkan dengan baik, khususnya pada bagian sela-sela jari sebelum menggunakan sepatu.
Penggunaan kaus kaki berbahan alami seperti katun atau wol juga disarankan. Kaus kaki sebaiknya diganti setiap hari untuk membantu menjaga kebersihan dan mengurangi kelembapan.
Selain itu, bedak kaki atau antiperspiran khusus dapat digunakan untuk membantu mengurangi produksi keringat pada kaki.
Sepatu yang telah digunakan juga sebaiknya diangin-anginkan hingga kering. Penggunaan sepatu yang sama setiap hari tanpa jeda sebaiknya dihindari agar kelembapan di dalam sepatu dapat berkurang.
Penggunaan sol anti-bau juga dapat menjadi pilihan karena dapat membantu menyerap kelembapan dan menjaga kondisi sepatu tetap segar.
Salah satu cara lain yang dapat dilakukan adalah merendam kaki menggunakan larutan air garam atau cuka setidaknya satu kali dalam seminggu untuk membantu membunuh bakteri dan jamur penyebab bau.
Dengan menjaga kebersihan kaki serta memilih kaus kaki dan alas kaki yang tepat, masalah bau kaki dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan.
Namun, apabila keluhan bau kaki tidak kunjung berkurang, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
(Mad/Rdk)


