KESEHATAN – Bau kaki yang muncul setelah sepatu dilepas merupakan masalah yang cukup umum dialami banyak orang. Kondisi tersebut umumnya berkaitan dengan kombinasi keringat, bakteri, serta penggunaan sepatu tertutup dalam waktu lama.
Dokter Spesialis Kulit RS Sari Asih Karawaci, dr. Inge Mailiza Marpaung, Sp.DV menjelaskan bahwa kaki termasuk bagian tubuh yang memiliki banyak kelenjar keringat sehingga lebih mudah berkeringat, terutama ketika berada di dalam sepatu tertutup.
“Kaki adalah bagian tubuh dengan kelenjar keringat terbanyak, sehingga rentan berkeringat, terutama saat berada di dalam sepatu tertutup dalam waktu lama,” jelas dr. Inge.
Menurutnya, kondisi kaki yang berkeringat dan berada di ruang tertutup membuat sepatu menjadi lingkungan lembap yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak. Bakteri kemudian memecah keringat menjadi asam, termasuk senyawa sulfur yang dapat menghasilkan aroma tidak sedap menyerupai telur busuk.
Salah satu jenis bakteri yang sering dikaitkan dengan masalah bau kaki adalah Micrococcus sedentarius.
Jamur hingga Bahan Sepatu Bisa Memicu Bau
Selain bakteri, terdapat sejumlah faktor lain yang dapat menyebabkan atau memperparah bau kaki. Salah satunya adalah infeksi jamur, seperti Tinea pedis atau yang dikenal sebagai kutu air. Infeksi tersebut juga dapat memicu munculnya aroma yang kurang sedap pada kaki.
Material sepatu turut berpengaruh terhadap kondisi kaki. Sepatu yang terbuat dari bahan sintetis atau karet cenderung memiliki sirkulasi udara yang kurang baik. Akibatnya, keringat lebih mudah terperangkap dan kondisi lembap di dalam sepatu dapat semakin memperparah bau.
Jenis kaus kaki yang digunakan juga perlu diperhatikan. Kaus kaki berbahan sintetis yang kurang efektif menyerap keringat dapat membuat kaki semakin lembap.
Dr. Inge menyarankan penggunaan kaus kaki berbahan alami yang lebih mampu menyerap keringat.
“Pilihlah kaus kaki berbahan katun atau wol yang lebih baik dalam menyerap keringat,” ujar dr. Inge.
Kebersihan Kaki Perlu Diperhatikan
Kurangnya kebersihan kaki juga dapat menjadi salah satu pemicu bau. Kaki yang jarang dibersihkan dapat mengalami penumpukan bakteri, kotoran, dan keringat.
Kondisi tersebut dapat semakin buruk apabila seseorang menggunakan kaus kaki yang sama berulang kali tanpa dicuci.
Selain faktor kebersihan, kondisi medis tertentu juga dapat meningkatkan risiko bau kaki. Salah satunya adalah hiperhidrosis, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami produksi keringat berlebih, termasuk pada bagian kaki, bahkan ketika tidak sedang melakukan aktivitas fisik.
Infeksi jamur juga termasuk kondisi medis yang dapat menyebabkan aroma menyengat pada kaki.
Cara Mengurangi Bau Kaki
Untuk membantu mengatasi bau kaki, dr. Sotya Prasari memberikan sejumlah langkah praktis yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, kaki perlu dicuci secara teratur menggunakan sabun antibakteri, terutama setelah melakukan aktivitas. Setelah dicuci, kaki juga harus dikeringkan dengan baik, khususnya pada bagian sela-sela jari sebelum menggunakan sepatu.
Penggunaan kaus kaki berbahan alami seperti katun atau wol juga disarankan. Kaus kaki sebaiknya diganti setiap hari untuk membantu menjaga kebersihan dan mengurangi kelembapan.
Selain itu, bedak kaki atau antiperspiran khusus dapat digunakan untuk membantu mengurangi produksi keringat pada kaki.
Sepatu yang telah digunakan juga sebaiknya diangin-anginkan hingga kering. Penggunaan sepatu yang sama setiap hari tanpa jeda sebaiknya dihindari agar kelembapan di dalam sepatu dapat berkurang.
Penggunaan sol anti-bau juga dapat menjadi pilihan karena dapat membantu menyerap kelembapan dan menjaga kondisi sepatu tetap segar.
Salah satu cara lain yang dapat dilakukan adalah merendam kaki menggunakan larutan air garam atau cuka setidaknya satu kali dalam seminggu untuk membantu membunuh bakteri dan jamur penyebab bau.
Dengan menjaga kebersihan kaki serta memilih kaus kaki dan alas kaki yang tepat, masalah bau kaki dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan.
Namun, apabila keluhan bau kaki tidak kunjung berkurang, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
(Mad/Rdk)


