INFOTANGERANG.CO.ID – Suasana Kantor Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, pada Jumat malam (23/1/2026) tampak berbeda dari biasanya. Jika umumnya gedung pemerintahan sudah gelap dan sepi selepas sore, cahaya lampu di kantor ini justru benderang, menyambut warga yang datang silih berganti.

Inovasi pelayanan administrasi hingga pukul 21.00 WIB ini mendapat sorotan langsung dari Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid. Kehadirannya malam itu bukan sekadar seremoni, melainkan untuk memastikan bahwa negara benar-benar hadir saat masyarakat membutuhkannya.

Curug bukanlah wilayah biasa; ia adalah jantung industri di mana ribuan warganya menghabiskan waktu di dalam pabrik dari fajar hingga senja. Bagi mereka, mengurus KTP atau Kartu Keluarga (KK) sering kali berarti harus mengorbankan upah atau mengambil jatah cuti.

“Masyarakat di sini pagi sampai sore bekerja. Mereka butuh waktu tambahan,” ungkap Bupati Maesyal Rasyid di sela peninjauannya. Atas inisiatif pihak kecamatan, hari Jumat kini menjadi “hari panjang” bagi pelayanan publik di Curug.

Satu hal yang ditegaskan Bupati dalam kunjungannya adalah integritas. Ia melakukan sidak langsung dengan mewawancarai warga mengenai biaya. Hasilnya? Nihil. Seluruh layanan dipastikan gratis.

Tak hanya itu, standar pelayanan prima ditingkatkan ke level baru. Jika dokumen belum rampung pada malam tersebut, warga tak perlu bolak-balik. Sesuai SOP, petugas akan mengantarkan dokumen yang sudah jadi langsung ke pintu rumah warga dalam kurun waktu dua hingga tiga hari.

“Ini bukan sekadar kerja lembur, tapi bentuk dedikasi. Jika belum selesai hari ini, kita antar ke rumah warga. Ini yang saya sebut pelayanan prima,” tegas Bupati.

Manfaat nyata ini dirasakan langsung oleh Silvi, salah satu warga setempat. Baginya, layanan malam hari adalah oase di tengah padatnya jadwal kerja. “Kami yang bekerja di pabrik merasa sangat diakomodir. Inovasi ini benar-benar terasa manfaatnya,” ujarnya sumringah.

Melihat keberhasilan di Curug, Pemerintah Kabupaten Tangerang berencana mengkaji penerapan serupa di kecamatan lain dengan karakteristik wilayah industri yang sama. Curug kini bukan sekadar wilayah administrasi, melainkan role model bagaimana birokrasi seharusnya beradaptasi dengan ritme hidup masyarakatnya.

(AD/Rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *