KESEHATAN – Penyakit campak telah dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun lalu. Dan hingga saat ini sebanyak 31 provinsi di Indonesia masih terjadi peningkatan penyakit campak terutama pada anak.

Campak merupakan penyakit akibat virus yang dapat sembuh dengan sendirinya apabila daya tahan tubuhnya bagus. Walaupun dapat sembuh dengan sendirinya, bukan berarti campak tidak memiliki komplikasi.

Dokter Spesialis Anak RS Sari Asih Ciputat, Kota Tangerang Selatan, dr. Dinar Handayani Asri Hariadi, SpA, menyebutkan peningkatan penyakit campak mulai terlihat saat pandemi. Hal ini dimungkinkan imunisasi campak pada anak turun drastis.

“Ini bisa menyebabkan daya imunitas pada anak menurun, sehingga pada anak yang belum diimunisasi dan yang belum lengkap maka risiko terkena campak meningkat,” ujar dr Dinar.

Penyakit campak dijelaskan lebih jauh dr Dinar bahwa disebabkan oleh infeksi virus morbili yang bertahan di tubuh manusia dengan penularan melalui udara dan kontak langsung.

“Penularan virus ini membutuhkan waktu kurang lebih 10 hari sejak terkena kontak langsung dengan pasien,” jelasnya.

Gejala yang ditimbulkan oleh virus morbili diterangkan dr Dinar hampir sama dengan infeksi virus yang lain, dengan diawali demam yang tinggi diikuti rasa nyeri pada tubuh dan badan lemas, letih.

“Ada gejala khas dari penyakit campak ini, yaitu mata terlihat kemerahan (konjungtivitis), batuk kering dan adanya bercak putih pada pipi bagian dalam, sedangkan demam pada campak menimbulkan ruam yang muncul pertama di belakang telinga dan menyebar ke seluruh tubuh,” ungkapnya.

Berbeda dengan semisal demam berdarah yang memiliki ruam serupa bintik merah, pada penyakit campak ruam memiliki tekstur meninggi dari kulit yang jika diraba ruam tersebut terasa lebih tinggi dari kulit dasar permukaan.

Anak-anak usia di bawah 9 bulan memiliki faktor risiko yang cukup tinggi terkena virus campak, ini lantaran imunisasi yang direkomendasikan kepada anak adalah anak yang telah memasuki usia 9 bulan.

“Status imunisasi yang tidak lengkap juga berisiko pada anak terkena virus campak, dan juga pada anak yang tidak melakukan imunisasi ulangan,” ujarnya.

Selain imunisasi, bayi-bayi yang memiliki kurang atau lebih nutrisi turut mengundang risiko terpapar virus campak. Untuk itu bagi orang tua disarankan segera membawa anak ke dokter jika mengalami demam tinggi selama lebih dari 3 hari dan keluar ruam.

“Untuk mencegahnya anak harus dilengkapi imunisasinya dan melakukan pengulangan imunisasi pada waktunya. Dan jika ada anak yang terkena di lingkungan sekitar baiknya dilakukan isolasi agar tidak menyebar kepada anak-anak yang lain,” saran dr Dinar.

Follow Video INFO TANGERANG dan Berita infotangerang.co.id di Google News

(Mad/Rdk)

Tips cara mengatasi sakit diare:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *