INFOTANGERANG.CO.ID – Bagi umat Muslim, suara beduk Magrib di bulan Ramadan bukan sekadar penanda berakhirnya lapar dan dahaga selama belasan jam. Momen buka puasa atau iftar sejatinya adalah sebuah simfoni yang memadukan rasa syukur, pemulihan fisik, dan penguatan ikatan sosial di tengah masyarakat.

Esensi mendalam dari berbuka sering kali ditemukan dalam kesederhanaan. Ogi, seorang warga Tangerang, membagikan pengalamannya saat berbuka bersama keluarga. Menurutnya, kesan utama saat berbuka adalah kemampuan untuk kembali mengapresiasi hal-hal kecil yang biasanya dianggap remeh.

“Air putih yang biasanya terasa biasa saja, saat berbuka bisa terasa seperti minuman paling nikmat di dunia. Ini adalah momen di mana seseorang benar-benar menghargai rezeki,” ungkap Ogi usai berbuka, Minggu, 1 Maret 2026.

Setelah suapan pertama dan doa diucapkan, muncul rasa tenang yang menjadi modal spiritual untuk melanjutkan ibadah selanjutnya, seperti Salat Magrib dan Tarawih. Momen ini dianggap sebagai kemenangan kecil atas pengendalian diri dan hawa nafsu.

Tips Kesehatan: Hindari “Balas Dendam”

Meski semangat berbuka sangat tinggi, pakar kesehatan mengingatkan masyarakat untuk menghindari fenomena “balas dendam” atau makan berlebihan secara mendadak. Perut yang kosong membutuhkan waktu adaptasi agar sistem pencernaan tidak kaget.

Berikut adalah panduan nutrisi agar tubuh tetap bugar selama Ramadan:

  • Hidrasi Bertahap: Awali dengan air putih suhu ruang untuk menghindari kontraksi lambung akibat air es.
  • Glukosa Alami: Mengonsumsi kurma sangat disarankan karena mengandung serat dan fruktosa yang cepat mengembalikan energi tanpa lonjakan gula darah drastis.
  • Porsi Kecil: Berikan jeda antara takjil dan makanan berat. Idealnya, makan besar dilakukan setelah Salat Magrib.
  • Batasi Gorengan: Mengurangi makanan berminyak dapat mencegah kenaikan asam lambung dan mempercepat proses pengosongan lambung.

Selain aspek kesehatan, dimensi sosial Ramadan melalui tradisi “Buka Bersama” (Bukber) juga menjadi sorotan. Bukber menjadi jembatan silaturahmi yang kuat, namun di era media sosial, muncul tantangan berupa tren pamer hidangan dan risiko membuang-buang makanan (food wasting).

Nilai-nilai Ramadan yang mengajarkan keprihatinan terhadap sesama diharapkan tetap terjaga. Berbuka dengan sederhana namun bergizi dinilai jauh lebih selaras dengan esensi puasa dibandingkan pesta pora yang berlebihan. Karena pada akhirnya, kualitas buka puasa tidak terletak pada banyaknya menu, melainkan pada besarnya rasa syukur yang dirasakan.

(AD/Rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *