Kesiapan kerja, menurut Caballero, Walker dan Fuller-Tyszkiewicz (2011), diukur melalui empat aspek. Aspek-aspek tersebut karakteristik pribadi (personal characteristics) yang mengkaji pada hal-hal yang ada pada diri pribadi individu yang bersangkutan seperti resilensi atau kemampuan untuk bangkit dari kegagalan, kemampuan beradaptasi serta pengembangan diri. Selain itu, aspek yang juga diukur adalah ketajaman organisasi (organizational acumen) yang mencakup isu-isu antara lain motivasi, kematangan sampai kesadaran dalam berorganisasi serta pengembangan pribadi dan sikap terhadap kerja-hal-hal yang lebih berkisar pada konteks organisasi dan seberapa tajam individu menangkap aneka kesempatan untuk terus maju. Aspek lain adalah kompetensi kerja (work competence) berkisar pada hal-hal teknis seputar pekerjaan, motivasi dan pemecahan masalah terutama yang sesuai di bidang kompetensinya. Terakhir, kecerdasan sosial (social intelligence) juga merupakan salah satu aspek yang diukur, dimana aspek ini berfokus pada orientasi interpersonal dan penyesuaian diri dengan orang lain. Dapat disimpulkan begini: jika individu punya personal characteristics yang berkilau, organizational acumen-nya tajam, work competence-nya kuat dan social intelligence-nya mumpuni, maka individu tersebut dapat dinilai punya kesiapan kerja yang tinggi. Maka, kembali ke pertanyaan awal, apakah lulus kuliah lantas siap kerja? Jawabannya adalah tergantung pada keempat aspek di atas.
Melihat hal ini, tentunya kita menjadi berpikir kembali, lantas apa yang mesti kita lakukan untuk memastikan agar individu siap kerja. Ibarat memasak, ‘bahan’ apa saja yang perlu kita aduk dalam ‘panci’ dan ‘penggorengan’ dalam upaya kita ‘memasak’ sehingga ‘hidangan’ yang dihasilkan dipandang ‘lezat’? Apa yang perlu disiapkan agar kita bisa memastikan bahwa seorang individu siap kerja? Dengan kata lain: faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kesiapan kerja?
Sudah barang tentu terdapat sejumlah faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kesiapan kerja. Adapun faktor-faktor eksternal mencakup pengembangan perasaan tentang identitas profesional (sense of professional identity) dan peningkatan kecakapan diri (self-efficacy), belajar berorganisasi, peningkatan komunikasi interpersonal dan punya dukungan sosial. (Hamilton, Morrisey, Farrell et. Al. (2020); Satata (2021); Temtama, Subardjo & Mulasari (2019) dan Temtama & Riskiyana (2020).



